Mengenal Jemparingan, Tradisi Panahan Khas Jogja yang Masih Dilestarikan 

Kita semua tahu bahwa tidak akan ada yang bisa menolak fakta bahwa Jogja memiliki banyak sekali keunikan, tradisi, dan budaya. Bukan hanya tradisi kesenian, di Jogja juga ada tradisi dalam bentuk olahraga yang bernama jemparingan. 

Meski tidak seterkenal olahraga-olahraga baru yang dianggap kalcer, nyatanya jemparingan ini masih terus eksis hingga saat ini. Dan tentu saja sudah menjadi tanggung jawab bersama untuk terus melestarikan peninggalan tak benda agar tak tergerus zaman dan terlupakan. 

Nah, jika Anda sedang memiliki rencana untuk mengulik beberapa tempat menarik seperti Plengkung Gading Jogja, tidak ada salahnya juga untuk mengenal tentang jemparingan yang sangat terkenal di Jogja berikut ini. 

Apa Itu Jemparingan Jogja? 

Jemparingan jogja, Sumber: campatour.com
Jemparingan jogja, Sumber: campatour.com

Sebagian dari Anda, terutama yang tinggal di luar wilayah Jogja mungkin masih merasa asing dengan aktivitas satu in. Sederhananya, jemparingan merupakan seni memanah tradisional yang awalnya berasal dari Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat. Beberapa kalangan di Jogja juga sering menyebut olahraga ini dengan nama gaya Mataram Yogyakarta. 

Namun, jika olahraga panahan dilakukan dengan posisi berdiri, maka berbeda dengan jemparingan yang dilakukan dengan duduk bersila. Meskipun kelihatannya cukup mudah, namun dibutuhkan postur, ketelitian dan latihan yang cukup panjang sampai bisa melakukan aktivitas ini dengan baik. 

Sudah ada sejak ratusan tahun lalu, jemparingan akhirnya ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda bangsa Indonesia pada 21 Februari 2024. Hal ini seakan menjadi bukti bahwa jemparingan bukan hanya sekadar aktivitas biasa, namun juga memiliki nilai filosofi kehidupan yang tidak boleh dilupakan begitu saja. 

Selain itu, penetapan tadi juga menjadi salah satu langkah penting agar pemerintah dan masyarakat setempat memiliki kesadaran yang sama untuk melestarikan warisan ini. Sebab memang, warisan berharga tidak hanya bisa ditemukan di berbagai wisata museum Jogja, namun juga yang berbentuk tak benda. 

Sampai saat ini, banyak kelompok seni dan komunitas yang mengadakan pengenalan dan pelatihan, agar bisa menjaring lebih banyak individu yang bisa melakukan jemparingan dan ikut melestarikannya bersama masyarakat Jogja. 

Peralatan yang Dibutuhkan untuk Jemparingan 

Peralatan jemparingan, Sumber: ambarrukmo.com
Peralatan jemparingan, Sumber: ambarrukmo.com

Jika olahraga panahan membutuhkan peralatan tertentu, maka jemparingan pun demikian. Peralatan pertama yang dibutuhkan adalah jemparing atau yang berarti anak panah, sedangkan busurnya disebut dengan nama gandewa. 

Jemparing sendiri terdiri dari bedor, deder, wulu dan nyenyep. Bedor merupakan mata panah yang terbuat dari besi, deder adalah batang anak panah yang dibuat dari bambu, wulu merupakan bulu yang ada di pangkal panah, sedangkan nyenyep adalah bagian pangkal yang diletakkan di tali busur. 

Mengulik Sejarah Jemparingan Jogja, Sudah Ada Sejak Era Kerajaan Mataram 

Seperti yang sudah disinggung tadi, sejarah jemparingan ini sudah ada sejak awal keberadaan Kesultanan Yogyakarta. Pada saat itu, Sri Sultan Hamengku Buwono I memerintahkan para pengikutnya untuk belajar memanah sebagai salah satu sarana untuk membentuk watak ksatria. 

Watak ksatria yang dimaksudkan tadi adalah sawiji yang berarti berkonsentrasi, greget yang berarti semangat, sengguh yang berarti percaya diri, dan ora mingkuh yang memiliki arti bertanggung jawab. 

Keunikan Jemparingan Jogja, Berbeda dengan Panah Meskipun Mirip 

Jemparingan yang ada di Jogja memang terlihat mirip dengan olahraga panahan modern pada umumnya. Namun, jika diperhatikan lebih jauh, ada beberapa keunikan yang dimiliki oleh olahraga satu ini. 

Keunikan yang pertama adalah posisi pemainnya, di mana mereka yang melakukan jemparingan ini berada pada posisi duduk bersila. Setelah ditelusuri, ternyata posisi ini melambangkan keseimbangan dan kesederhanaan dalam kehidupan sehari-hari.

Sedangkan keunikan selanjutnya bisa dilihat teknik membidiknya yang tidak mengandalkan mata, melainkan busurnya diposisikan di bagian depan perut. Hal ini membuat pemanah lebih mengandalkan intuisi dibandingkan pandangan. Teknik ini bisa dikatakan lebih sulit jika dibandingkan dengan olahraga panahan modern. 

Filosofi yang Ada pada Jemparingan Jogja 

Gambaran jemparingan jogja, Sumber: ambarrukmo.com
Gambaran jemparingan jogja, Sumber: ambarrukmo.com

Warisan yang dijaga hingga kini biasanya memiliki filosofi tertentu, tidak terkecuali dengan jemparingan yang terkenal di masyarakat Jogja ini. Filosofi yang ada pada jemparingan sendiri sering disebut dengan istilah pamenthanging gendewa pamenthanging cipta. 

Yang maknanya adalah membentangnya busur yang dimainkan sejalan dengan konsentrasi pikiran pemanahnya. Yang jika diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari maksudnya adalah untuk mencapai impian dan cita-cita, maka seseorang harus bertekad kuat dan berfokus pada impian tersebut. 

Dalam melakukan olahraga jemparingan, pemanah tidak hanya harus berfokus pada teknik dan permainan. Namun, juga harus melatih konsistensi, kesabaran, kemauan dan juga percaya diri yang tinggi. Oleh karena itu, dibutuhkan latihan yang tidak sebentar untuk mahir melakukan olahraga ini. 

Perkembangan Jemparingan di Tengah Masyarakat Jogja

Informasi yang berkaitan dengan jemparingan yang juga perlu Anda ketahui adalah tentang perkembangannya di tengah masyarakat Jogja. Awalnya, olahraga ini hanya dikenal di lingkup keraton saja, namun makin ke sini makin banyak masyarakat luar yang mengenal dan tertarik mempelajarinya, yang mana ini adalah pertanda yang baik. 

Tak hanya itu saja, jemparingan juga sering diperkenalkan di acara-acara budaya dan juga diselenggarakan lomba jemparingan. Oleh karena itu, makin banyak masyarakat umum yang mengenal warisan budaya satu ini. 

Apalagi, saat ini sudah ada beberapa komunitas ikut mengenalkan dan melestarikannya. Selain itu, komunitas ini juga tidak hanya mengenalkan teknik jemparingan, namun juga filosofi yang ada di dalamnya. 

Nah, itulah beberapa informasi jemparingan di Jogja yang perlu Anda ketahui. Sebagai masyarakat yang baik, ada baiknya bagi Anda untuk ikut mengenalkan dan melestarikannya demi menjaga peninggalan yang berharga ini. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan komentar